Saat Budaya Tak Lagi Hanya di Ruang Pamer, Tapi Hidup di Tengah Masyarakat Tamiang

oleh -90 Dilihat

ACEH TAMIANG — Peringatan Hari Kebudayaan Nasional tahun 2026 menjadi titik balik bagi dunia kebudayaan di Kabupaten Aceh Tamiang. Bukan upacara atau pesta rakyat yang digelar secara mewah, melainkan sebuah dialog tulus yang mempertemukan pemikir, seniman, pendidik, dan pemerhati sejarah di bawah satu tema besar: “Budaya Hidup, Indonesia Berdaya”.

Kegiatan yang digagas Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah 1 Aceh ini berlangsung penuh kehangatan, dihadiri budayawan, penggiat budaya, penulis, guru, pengawas sekolah, serta komunitas dan sanggar seni dari berbagai penjuru wilayah.

banner 728x90

Ir. Muntasir, narasumber utama dalam dialog tersebut, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengubah pandangan terhadap kebudayaan.

“Hari Kebudayaan Nasional hendaknya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang kita terhadap kebudayaan. Kebudayaan bukan hanya urusan masa lalu, bukan hanya tanggung jawab satu instansi, dan bukan pula sekadar kegiatan seremonial,” ujarnya dengan tegas, Sabtu (17/10/2026).

Ia menegaskan, kebudayaan sesungguhnya adalah napas kehidupan bangsa.

“Kebudayaan adalah urusan kehidupan, pembangunan, kepemimpinan, pendidikan, dan masa depan bangsa,” imbuhnya.

Muntasir juga mengajak semua pihak untuk tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi menghidupkannya dalam keseharian.

“Mari kita tumbuhkan kebudayaan, buka ruang dialog, rawat nilai-nilai luhur, perjuangkan kebudayaan dalam kebijakan pembangunan, dan selamatkan warisan sejarah sebagai sumber pengetahuan bagi generasi mendatang,” ajaknya.

Secara khusus, Muntasir menekankan makna kebudayaan bagi masyarakat Aceh Tamiang, menjaga kebudayaan berarti merawat jati diri, menyelamatkan sejarah berarti menjaga ingatan. Dan mewariskan pengetahuan berarti menyiapkan masa depan.

Sementara itu, Mustafa Kamal, S.Pd, MM, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Tamiang, menyambut antusias terselenggaranya dialog ini.

“Kegiatan ini sangat luar biasa. Ketika budayawan, guru, penulis, dan komunitas duduk bersama berdialog, di situlah kebudayaan itu sesungguhnya hidup,” ungkap Mustafa Kamal kepada media ini.

Ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus menjadi mitra masyarakat dalam menjaga dan mengembangkan kebudayaan.

“Pemerintah tidak bisa berjalan sendirian. Dukungan masyarakat adalah kekuatan terbesar kita. Budaya harus tumbuh dari bawah, dari hati masyarakat itu sendiri,” jelasnya.

Dialog ini menjadi bukti bahwa kebudayaan bukan benda mati yang tersimpan di lemari sejarah, melainkan kekuatan hidup yang terus tumbuh, berdialog, dan memberi makna bagi masa depan bangsa. ***

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.